Minggu, 08 Januari 2012

STUDI KEPUSTAKAAN


A.    Pengertian studi kepustakaan ( Library Research).
Studi kepustakaan dapat diartikan sebagai suatu langkah untuk memperoleh informasi dari penelitian terdahulu yang harus dikerjakan, tanpa memperdulikan apakah sebuah penelitian menggunakan data primer atau data sekunder, apakah penelitian tersebut menggunakan penelitian lapangan ataupun laboratorium atau didalam museum.
Pengertian studi kepustakaan menurut beberapa Ahli yaitu:
Menurut M. Nazir dalam bukunya yang berjudul ‘Metode Penelitian’ mengemukakan bahwa        yang            dimaksud        dengan:
Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.”(Nazir,1988: 111).[1]
Selanjutnya menurut Nazir (1998 : 112) studi kepustakaan merupakan langkah yang penting dimana setelah seorang peneliti menetapkan topic penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari: buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll).  Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera untuk disusun secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasikan teori secara sistematis, penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian.

Studi kepustakaan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Teori-teori yang mendasari masalah dan bidang yang akan diteliti dapat ditemukan dengan melakukan studi kepustakaan. Selain itu seorang peneliti dapat memperoleh informasi tentang penelitian-penelitian sejenis atau yang ada kaitannya dengan penelitiannya. Dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan melakukan studi kepustakaan, peneliti dapat memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan penelitiannya.
Untuk melakukan studi kepustakaan, perpustakaan merupakan suatu tempat yang tepat guna memperoleh bahan-bahan dan informasi yang relevan untuk dikumpulkan, dibaca dan dikaji, dicatat dan dimanfaatkan (Roth 1986). Seorang peneliti hendaknya mengenal atau tidak merasa asing dilingkungan perpustakaan sebab dengan mengenal situasi perpustakaan, peneliti akan dengan mudah menemukan apa yang diperlukan. Untuk mendapatkan informasi yang diperlukan peneliti mengetahui sumber-sumber informasi tersebut, misalnya kartu katalog, referensi umum dan khusus, buku-buku pedoman, buku petunjuk, laporan-laporan penelitian, tesis, disertasi, jurnal, ensiklopedi, dan bahan-bahan khusus lain. Dengan demikian peneliti akan memperoleh informasi dan sumber  yang tepat dalam waktu yang singkat.
B.     Empat ciri utama studi kepustakaan :
setidaknya ada empat ciri utama penelitian kepustakaan yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa atau calon peneliti dan keempat ciri itu akan mempengaruhi sifat dan cara kera penelitian yaitu:[2]
1.         Peneliti berhadapan langsung dengan teks (nash) atau data angka dan bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan atau saksi mata (eye witness) berupa kejadian, orang, atau benda lainnya. Teks memiliki sifat-sifatnya sendiri dan memerlukan pendekatan tersendiri pula. kritik teks merupakan metode yang biasa dikembangkan dalam studi fisiologi, dll. Jadi perpustakaan adalah laborat peniliti kepustakaan dan karena itu teknik membaca teks ( buku, artikel, dan dokumen) menjadi bagian yang fundamental dalam penilitian kepustakaan.
 2.        Data pustaka bersifat siap pakai (ready mode): peneliti tidak kemana-mana kecuali hanya berhadapan langsung dengan bahan sumber yang sudah tersedia di perpustakaan.ibarat orang belajar naik sepeda, orang tak perlu membaca buku artikel atau buku tentang bagaimana teori naik sepeda, begitu pula halnya dengan riset pustaka. Untuk melakukan riset pustaka, orang tidak perlu menguasai ilmu perpustakaan. Satu-satunya cara untuk belajar menggunakannya perpustakaan dengan tepat ialah  langsung menggunakannya. Meskipun demikian, calon peneliti yang ingin memanfaatkan jasa perpustakaan, tentu masih perlu mengenal seluk-beluk studi perpustakaan untuk kepentingan penelitian  atau pembuatan makalah.
 3.        Data perpustakaan umummnya sumber sekunder artinya: bahwa peniliti memperoleh bahan dari tangan kedua dan bukan data orisinil dari tangan pertama di lapangan.
4.         Bahwa kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Peneliti berhadapan dengan info statis: tetap artinya kapanpun Ia datang dan pergi data tersebut tidak akan berubah karena ia sudah merupakan data “mati” yang tersimpan dalam rekaman tertulis (teks, angka, gambar, rekaman tape atau film).
Sistematika dalam studi literature dimaksudkan sebagai proses penelitian dengan menggunakan metode, pendekatan, cara, serta alat analisis dengan terancang dan diterapkan dengan tepat.
Mengenai alat analisi yang harus digunakan tentu saja pendekatan dengan studi kepustakaan ini berbeda pola kerjanya bila dibandingkan dengan studi Non pustaka. Alat-alat analisis dalam studi kepustakaan adalah :[3]
1.      Analisi komparasi yaitu : dengan cara membandingkan objek penelitian dengan konsep pembanding. Dalam penelitian ini akan dihasilkan 2 kemungkinan:
a.       Simpulan menyatakan bahwa konsep yang diteliti sama dengan konsep pembandingnya, dan
b.      Simpulan yang diteliti menyatakan ketidaksamaan.
Tujuan utama penelitian semacam ini adalah membandingkan apakah kasus yang diteliti mempunyai kesamaan dengan konsep pengujinya.
2.      Analisis historis yaitu : dengan cara melakukan analisis kejadian-kejadian dimasa yang lalu untuk mengetahui kenapa dan bagaimana suatu peristiwa itu telah terjadi. Hasil yang ditemukan bermanfaat untuk menentukan apakah rentetan kejadian tersebut sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Sulistyo Basuki (1991) mengatakan bahwa klasifikasi berasal dari kata Latin “classis”. Klasifikasi adalah proses pengelompokan, artinya mengumpulkan benda/entitas yang sama serta memisahkan benda/entitas yang tidak sama. Secara umum dapat dikatakan bahwa batasan klasifikasi adalah usaha menata alam pengetahuan ke dalam tata urutan sistematis.[4]
 Towa P. Hamakonda dan J.N.B. Tairas (1995) mengatakan bahwa klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis daripada sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama
Secara umum, klasifikasi bahan pustaka terbagi dalam dua jenis, yaitu:
1.      Klasifikasi artifisial           (artificial          classification)
berdasarkan sifat-sifat/ciri-ciri fisik yang secara kebetulan ada pada bahan pustaka
tersebut.Misalnya,berdasarkan      warna  buku    atau     tinggi   buku.
2.      Klasifikasi fundamental    (fundamental   classification)
berdasarkan isi atau subjek buku, yaitu sifat yang tetap pada bahan
pustaka meskipun bentuk fisiknya berganti-ganti atau formatnya diubah.
System klasifikasi perpustakaan yang paling umum digunakan yaitu:
a.      System library of congress.
Ø  Klasifikasi besar (kelas utama) dinyatakan dengan huruf dan klasifikasi spesifiknya dinyatakan dengan angka.

Kelas Utama menurut sistem Library of Congress yaitu:

b.      sistem Dewey ( Dewey decimal clasificasi system).
Diciptakan oleh seorang pustakawan Ambhers College bernama Melvil Dewey (1851–1931).
Ada 10 kelas utama dalam klasifikasi Dewey. Sistem ini membagi koleksi perpustakaan dalam 10 kelompok utama yang dirinci secara sistem desimal menjadi 1000 kategori mulai dari No 000 a.d. 999.  ke 10 kelompok utama.

D.    Alat Bantu Bibliografis
Berbagai macam jenis koleksi perpustakaan yang disebutkan diatas diklasifikasikan, disimpan dan dipajang dalam system klasifikasi tertentu. Tetapi apapun system yang dipakai, mahasiswa atau calon peniliti sebaiknya mengenal bebrapa koleski terpilih, yang dalam studi pustaka disebut alat bantu bibliografis.[5]
1.      Buku-buku referensi ( reference books) yaitu koleksi buku yang memuat info spesifik dan paling umum serta sering dirujuk untuk keperluan cepat. Biasanya tidak untuk dibaca tamat secara keseluruhan, melainkan hanya untuk kebetuhan mencari jawaban tentang suatu persoalan secara singkat dan terfokus. Yang Buku-buku referensi antara lain:
a.       Kamus ( kamus umum dan khusus menurut displin tertentu).
b.      Ensiklopedi ( umum dan khusus).
c.       Sarana bibliografis dalam bentuk indeks dan abstrak,serta bibliografi khusus dalam bentuk tercetak, seperti Indeks Biologi dan Pertanian Indonesia, Abstrak Hasil Penelitian Pertanian Indonesia, Bibliografi Karet, Bibliografi Khusus Cengkeh, Gulma, dan PerananWanita.
d.      Sarana bibliografi elektronis dalam bentuk CD-ROM (AGRICOLA, KBI, Tropag & Rural), disket data (CCOD), serta indeks dari basisdata e journal fulltext seperti TEEAL (off-line) dan Pro-Quest (online).[6]
2.      Bibliografis buku-buku teks.
Setiap disiplin ilmu/ sub disiplin ilmu tertentu pastilah memiliki buku standar dibidangnya/ buku rujukan yang khusus mengenai aspek tertentu, seperti buku tentang studi islam di Indonesia dapat dilihat misalnya buku klasik karya Dr. G.F. Pijper, studien over De Geschiedens Van de islam in Indonesia, (1900-1950), ( leiden.E.J, Brill 1977).dll
3.      Indeks dokumen
 perpustakaan besar  yang standar biasanya juga menyimpandokumen-dokumen yang telah diterbitkan. Ada dokumen resmi pemerintah dan dokumen swasta/pribadi. Laporan resmi pemerintah daerah seperti sumatera barat dalam angka yang diterbitkan tiap tahun oleh (pemda) Bapeda sumatera barat hanya salah satu contoh saja.
4.      Indeks manuskrip.
Adalah semua naskah yang belum diterbitkan, termasuk dokumen laporan penelitian dan naskah kuno local/ copy transkip dari dokumen sejarah lama. Perpustakaan perguruan tinggi juga menyimpan manuskrip berupa karya kesarjanaan berupa skripsi, tesis dan disertasi.

E.     Langkah-langkah dalam studi kepustakaan:
Ada dua langkah yang harus ditempuh oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian studi pustaka yaitu:[7]
  1. Mendaftar semua variable yang perlu diteliti.
  2. Mencari setiap variable pada "subject encyclopedia".
  3. Memilih deskripsi bahan-bahan yang diperlukan dari sumber-sumber yang tersedia.
  4. Memeriksa indeks yang memuat variable-variabel dan topik masalah yang diteliti.
  5. Selanjutnya yang menjadi lebih khusus adalah mencari artikel-artikel, buku-buku, dan biografi yang sangat membantu untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan dengan masalah yang diteliti.
  6. Setelah informasi yang relevan ditemukan, peneliti kemudian "mereview" dan menyusun bahan pustaka sesuai dengan urutan kepentingan dab relevansinya dengan masalah yang sedang diteliti.
  7. Bahan-bahan informasi yang diperoleh kemudian dibaca, dicatat, diatur, dan ditulis kembali. Untuk keperluan ini biasanya peneliti dapat menggunakan dua macam kartu, yaitu kartu bibliografi (bibliography card) dan kartu catatan (content card). Agar dapat dibedakan, kedua kartu tersebut dapat berbeda wamanya. Kartu bibliografi dibuat untuk mencatat keterangan tentang judul buku, majalah , surat kabar, dan jurnal. Catatan pada kartu bibliografi berisikan nama pengarang, judul buku, penerbit, dan tahun penerbitannya. Sedangkan pada kartu catatan atau content card, peneliti dapat menulis kutipan (quotation) dari tulisan tertentu, saduran, ringkasan, tanggapan atau komentar peneliti terhadap apa yang telah dibaca.
  8. Dalam langkah terakhir,yaitu proses penulisan penelitian dari bahan-bahan yang telah terkumpul dijadikan satu dalam sebuah konsep penlitian.
F.     Tujuan Studi Kepustakaan
Peneliti akan melakukan studi kepustakaan, baik sebelum maupun selama dia melakukan penelitian. Studi kepustakaan memuat uraian sitematis tentang kajian literatur dan hasil penelitian sebelumnya yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan dan diusahakan menunjukkan kondisi mutakhir dari bidang ilmu tersebut (the state of the art). Studi kepustakaan yang dilakukan sebelum melakukan penelitian bertujuan untuk:[8]
1.    Menemukan suatu masalah untuk diteliti.
2.    Mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
3.    Mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan masalah yang akan diteliti..
4.    Untuk membuat uraian teoritik dan empirik yang berkaitan dengan faktor, indikator, variable dan parameter penelitian yang tercermin di dalam masalah-masalah yang ingin dipecahkan.
5.      Memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang yang akan diteliti.
6.      Mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Artinya hasil penelitian terdahulu mengenai hal yang akan diteliti dan atau mengenai hal lain yang berkaitan dengan hal yang akan diteliti. 
7.      Mendapat informasi tentang aspek-aspek mana dari suatu masalah yang sudah pernah diteliti untuk menghindari agar tidak meneliti hal yang sama. (Kasihani Kasbalah, 1992 , juga Bintarto, 1992).[9]

G.    Fungsi Studi Kepustakaan ( library research).

Studi pustaka mempunyai tiga fungsi penting yaitu :
1.      Memberikan gambaran tentang topic masalah kepada pembaca.
2.      Meyakinkan pembaca bahwa penulis mengetahui banyak hal tentang topic masalah yang sedang diteliti.
3.      Mengembangkan wawasan tentang bidang studi yang diteliti. ( Weissberg & Buker 1990 : 41-45).

H.    Hambatan dalam melakukan studi kepustakaan.
Studi kepustakaan tidak selalu "mulus" pelaksanaannya. Beberapa hambatan umum yang sering menyebabkan ketidak lancaran kegiatan ini antara lain:

1.  Kurangnya buku atau sumber kepustakaan lain, terutama yang bersifat ilmiah. Sampai saat ini masih terasa sangat kurang bahan kepustakaan ilmiah di Indonesia. Demikian pula bahan kepustakaan ilmiah dari luar negeri juga sulit diperoleh.
2. Kelemahan peneliti untuk memahami tulisan-tulisan dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ketidakmampuan membaca buku referensi dalam bahasa asing menyebabkan peneliti tidak dapat memanfaatkan informasi ilmiah dari luar negeri. Penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, akan sangat membantu peneliti untuk mengikuti perkembangan informasi ilmiah. Hasil-hasil penelitian dan teori-teori yang sudah dikembangkan dan tertulis dalam bahasa Inggris tidak dimanfaatkan oleh peneliti yang mau memperdalam pengetahuan yang relevan dengan bidangnya bila dia tidak mampu membaca bahasa asing.
3. Rendahnya minat pada banyak peneliti untuk membaca tulisan ilmiah untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu di bidangnya masing-masing. Kelihatannya kegemaran membaca karya ilmiah masih perlu digalakkan agar peneliti selalu dapat mengikuti perkembangan ilmu yang ada.[10]
I. Manfaat Studi Kepustakaan.
Dengan melakukan kaji literature peneliti akan memperoleh beberapa manfaat yaitu:
                  1.                        Peneliti akan mengetahui apakah permasalahan yang dipilih untuk dipecahkan melalui penilitian belum pernah diteliti oleh orang-orang pendahulu.
                  2.                        Dapat mengetahui masalah-masalah lain yang mungkin lebih menarik dibanding masalah yang sedang diteliti.
                  3.                        Peneliti dapat melancarkan menyelesaikan kerjaannya dengan melakukan kaji literature.[11]
Contoh penelitian:
Studi analisis surat Al-luqman ayat 13-19  ( pendidikan anak).
  1. Mendaftar semua variable yang perlu diteliti.
Variabel :
·         surat Luqman ayat 13-19.
·         Pendidikan anak.
2.      Mencari setiap variable pada "subject encyclopedia".
a.           








b.                  pendidikan anak menurut surat luqman ayat 13-19.

Ibnu Katsir r.a telah mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa luqman berpesan kepada putranya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah, luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya sesuatu pun seraya memperingati kepadanya: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar"[13]
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui

Ibnu Katsir mengatakan bahwa seandainya amal sekecil dzarrah itu dibentengi dan ditutupi berada didalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah pasti akan membalasinya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah tiada sesuatupun tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada dilangit maupun dibumi, terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah, disebutkan oleh firman-Nya:[14]
“Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
Luqman terus-menerus memberikan pengarahan kepada putranya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan oleh firman-Nya:

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya: “Aqimish shalaata, dirikanlah shalat, lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. Wa’mur bil ma’rufi wanha ‘anil mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan cegahlah perkara yang mungkar menurut batasan kemampuan dan jerih payahmu, karena sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahi munkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itulah, dalam pesan selanjutnya Luqman memerintahkan kepada putranya untuk bersabar. [15]
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ash-Sha’r artinya berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga pesendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengan seorang lelaki yang bersikap sombong.
Ibnu Katsir mengatakan: “Janganlah engkau bersikap sombong dengan dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara denganmu. Dalam sebuah hadits:
كُلُّ صَعَّارٍ مَلْعُوْنٌ
“Setiap orang yang sombong itu terkutuk.”[16]
As-Sha’aar, orang yang sombong, karena dia hanya memperlihatkan pipinya dan memalingkan wajahnya dari orang lain. (An-Nihayah, Ibnul Atsir, bab Sha’ara).
3.   Memilih deskripsi bahan-bahan yang diperlukan dari sumber-sumber yang tersedia.bahan-bahan pustaka yang menyangkut dengan judul penelitian yaitu:
v  M.quraish shihab. 2000. Secercah cahaya ilahi. Bandung : PT Mizan pustaka. Hal 93-96.
v  Ahmad Mustafa Al-maragi. 1992. Tafsir Al-maragi. Semarang: Cv toha putra. Hal 133.
v  Sayyid quth. 2004. Tafsir fi zhilali qur’an. Jakarta: gema insani.
v  Syekh usamah ar-rifa’i. 2008. Tafsirul wajiz. Jakarta: Gema insane. Hal 412.
v  Abdullah bin Muhammad. 2007. Tafsir Ibnu Katsir. Bogor: Pustaka Imam Asy- Syafi’i.

4.      Memeriksa indeks yang memuat variable-variabel dan topik masalah yang diteliti.
Setelah semua data tentang contoh penelitian diatas,data tersebut diperiksa kembali sebelum dilakukan proses penelitian.
5.      Mereview semua bahan pustaka.

Pengajaran yang diabadikan Al-qur’an setelah dalam ayat sebelumnya Al-qur’an menegaskan bahwa sebagian dari hikmah yang dianugerahkan kepada Luqman itu adalah perintah untuk bersyukur atas nikmat-Nya. Tentu saja salah satu nikmat tersebut adalah anaknya, dan mensyukuri kehadiran anak adalah dengan mendidiknya.[17]
Telah dibahas diatas tentang bagaimana cara Luqman mendidik anaknya dengan sangat hati-hati sekali dan menasehatinya dikala anaknya lalai dalam kesehariannya. Dibuktikan pada ayat 13 disebutkan bahwasanya Luqman memberikan pelajaran kepada anaknya agar tidak memepersekutukan Allah swt, Dialah yang Maha Esa  Maha Agung pencipta seluruh alam raya ini beserta isinya yang patut disembah, sebegaimana tertera dala Q.S Al-Ikhlas: 1-4
Kemudian dijelaskan pada Surat Al-luqman  ayat 16  sampai 19.



[1] M. nazir,2003. metode penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia, cet.ke-5. Hal 27.
[2] Mestika zed. 2008. Metodo penelitian kepustakaan. Jakarta: yayasan obor Indonesia. Hal. 4-5
[4] Ibid hal 59-62
[5] Mestika zed. 2008. Metodo penelitian kepustakaan. Jakarta: yayasan obor Indonesia.hal 10-16.
[6] Sukardi. 2009. Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: PT Bumi aksara.hal 35-37.

[7] Mestika zed. 2008. Metodo penelitian kepustakaan. Jakarta: yayasan obor Indonesia,hal 16-23.
[8] Sukardi, 2009, metodologi penelitian pendidikan, PT Bumi askara: Jakarta hal: 78-80 cet. 6
[9] Kasbolah, Kasihani. "Studi kepustakaan", artikel Forum Penelitian, 4(1-2), 1992: 179-185.

[11] Nasution.2003. Metode research. Jakarta: Bumi aksara hal 54.
[12] http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/31. tgl 02 januari 2012 pukul: 19:49.
[13] Bukhari, Kitab Ahaditsil Anbiya, hal 3110.

[14] Abdullah. 2004. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
[15] Abdullah bin Muhammad. 2007. Tafsir Ibnu Katsir. Bogor: Pustaka Imam Asy-
Syafi’i.
[16] Tafsir Qurthubi 14/70
[17] M.quraish shihab. 2000. Secercah cahaya ilahi. Bandung : PT Mizan pustaka. Hal 95.

5 komentar:

  1. Assalamu'alikum, saya ijin copy paste ya. Buat referenci Skripsi saya. Mksih

    BalasHapus
  2. ass,, mkasih y atas berbaginya..,,mhn izin copi paste nya y..,,,mdh2n allah mmberikan balasan Nya yg berlipat ganda,,amin..

    BalasHapus
  3. assalamu'alaikum... thanks for your sharing,,, mohon ijin copy-paste buat refrensi skripsi saya,,, terima kasih.

    BalasHapus